Pages

Wednesday, 30 November 2011

Cermin Pribadi Pemuda Muslim

Teringat cerita seorang pemuda yang ingin mendaftarkan dirinya sebagai prajurit dalam sebuah peperangan yang dipimpin Rasulullah SAW. Ia datang membawa pedang yang panjang pedangnya itu melebihi tinggi badannya. lalu dengan tegas Rasulullah menolak niatannya karena ia belum memiliki seni berperang. Lalu Pemuda itu pulang dan berdiskusi dengan ibunya, lalu Ia terus belajar dan mencari kelebihan yang ia miliki sehingga ia pun menemukan bahwa ia pandai menulis dan berbahasa. Di kemudian harinya Rasulullah mengangkat beliau sebagai sekretaris pribadi. Dan pemuda itu adalah Zaid bin sabit.
Lain hal nya dengan Arqam bin abi arqom. Beliau dengan tulus merelakan rumah tinggalnya digunakan sebagai tempat halaqah pertama Rasulullah beserta para sahabat. Ia dengan ikhlas membuka selebar-lebarnya pintu rumah nya agar aktivitas dakwah itu berlangsung. Padahal jika kaum kafir Quraisy tau akan perkara ini, maka sudah lah pasti rumah tersebut akan di bumi hanguskan. Tetapi pemuda satu ini memiliki keyakinan yang kuat akan dakwah Islam sehingga ancaman tersebut bukan menjadi penghalang baginya.
Ada juga pasangan sahabat yang masih muda, yang sangat ingin membunuh Abu Jahal karena mereka mendengar bahwa Abu Jahal sangat sering mengintimidasi Rasulullah. Dengan niat membela manusia yang mereka cintai, maka pada perang Badar tercapailah apa yang telah mereka cita-citakan dan abu Jahal pun mati di tangan kedua pemuda ini. Kedua pemuda ini adalah Muadz bin afra dan Muadz bin Amru.
Dan pemuda satu ini, dengan istiqamah walau disiksa, dicambuk, dijemur di bawah matahari yang terik, dihimpit batu besar, tidak melunturkan aqidahnya dan senantiasa mengucapkan “Ahad”, Allah Yang Satu. Pemuda ini sangat dikenal di masyarakat karena namanya sangat sering disebut, terutama di masjid-masjid. Ia adalah Bilal bin rabbah.
Mereka kesemuanya adalah pemuda dan mereka pernah eksis di muka bumi ini. Mereka memiliki karakter yang jika kita cerminkan ke para pemuda saat ini, maka sangat sulit ditemukan karakter pemuda yang sama seperti mereka. Krisis karakter yang dialami pemuda saat ini, seharusnya sedikit demi sedikit harus kita atasi. Kita mulai mencoba untuk membangun kembali karakter para pemuda, terutama pemuda muslim saat ini. Karakter menjadi sangat urgen karena nasib dari bangsa dan peradaban ini ke depannya berada di tangan para pemuda. Karakter–karakter yang perlu di miliki pemuda muslim itu bisa kita sarikan dari Rasulullah SAW, para sahabat, ataupun para pemuda pejuang lainnya. Lalu apa saja karakter yang sangat esensial dibutuhkan oleh pemuda muslim saat ini?
“Iqra’”, kalimat pertama yang disampaikan Jibril kepada Rasulullah SAW. hal ini jika kita salami maknanya mengisyaratkan kepada kita akan pentingnya belajar atau menimba ilmu. Ibnu katsir di dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah sangat baik kepada manusia karena Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui oleh manusia itu. sehingga dengan ilmu ini lah Allah memuliakan manusia di bandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya. Dan hal ini juga yang mengharuskan bahwa seseorang itu wajib menuntut ilmu. Oleh karena itu, karakter yang perlu dibangun oleh pemuda muslim salah satunya adalah jiwa-jiwa yang senantiasa menimba ilmu.
Selanjutnya yang perlu dipupuk oleh Pemuda Muslim adalah idealisme yang Islami. Secara terminologi Idealisme adalah aliran yang menjunjung tinggi ide. Secara definisi idealisme adalah aliran yang mengutamakan ide-ide sebagai landasan kehidupan seseorang. kita mengetahui bahwa idealisme itu memiliki cirri khas, yaitu ide. ketika Ide itu berasal dari manusia, maka sudah jelas ide tersebut memiliki batasan karena kapasitas manusia dalam menggagas ide itu sangat terbatas juga. Maka umat Islam sebenarnya memiliki keunggulan, yaitu karena Umat Islam punya sumber ide yang tidak memiliki batas yang kita semua umat Islam meyakini hal tersebut. Sumber ide tersebut adalah Al Qur’an dan hadits. Ketika idealisme itu bersumber pada sumber yang tidak memiliki batas, maka dapat dipastikan kesempurnaan dari idealisme itu. Dan penulis membahasakan idealisme ini sebagai idealisme yang islami. Dan Pemuda Muslim saat ini wajib Berpegang Teguh terhadap idealisme yang islami itu.
Karakter Pemuda Muslim masih kurang jika hanya berpedoman pada dua karakter sebelumnya apalagi karakter untuk pemuda muslim yang menginginkan perubahan. Karakter selanjutnya yang diperlukan oleh Pribadi Muslim adalah Memiliki visi atau tujuan hidup yang jauh ke depan. Visi ini lah yang nantinya akan menjadi sebuah peristiwa baru yang akan dicantumkan ke dalam buku sejarah peradaban dunia.
Dan jika kesemua karakter itu sudah dimiliki pemuda muslim, maka kesemuanya itu harus dibalut dengan ikatan yang bernama istiqamah. Agar kekuatan karakter itu kokoh dan kuat. Mampu bertahan ketika ada yang ingin menggoyangkannya atau mengubahnya. Karakter ini juga lah yang mampu membuat pemuda muslim itu mampu menjaga semangat pemuda, walau ia dicaci, dimaki, atau dijatuhkan sekalipun. Rasulullah pun pernah berpesan kepada salah satu sahabatnya tentang sifat ini. Dari Abu Sufyan bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu berkata: Aku telah berkata, “wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu berkata pada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, “katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah”.
Sehingga ketika Pemuda muslim saat ini memiliki karakter-karakter yang tersebut di atas, maka seperti itulah cerminan Pribadi Pemuda Muslim. Karakter-karakter tersebut tidak mutlak, tetapi hal tersebut merupakan karakter yang dominan yang seharusnya dimiliki Pemuda Muslim saat ini.

Tuesday, 29 November 2011

Sebuah Dialog Selepas Malam

“AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.

Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.

"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.

Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.

"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.

Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."

"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.

Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari Anda, pembaca...

Wallahu a'lam. 

(sumber: Majalah Al-Izzah, No. 07/Th.4)

Monday, 28 November 2011

Pengurus My Club Kota Tebing Tinggi 2011

Ketua : Kurnia Rahman
Sekretaris : Lestio Hadi, A.Md
Bendahara : Ayuri Yasda Damanik

Divisi PSDM
Kadiv : M. Zen Agustar, S.Pd
Staff : Yuswita
           Vivi Novita Sari
           Mahdiny, SH
           Sri Wahyuni
           Kristin Natalia Limbong, S.Pd

           Willy Andika, S.Kom


Divisi BAKRI
Kadiv : Irwansyah
Staff : Fajar Hadis Wahyudi, SE
          
Divisi HUMAS
Kadiv : Imam Zarkasi, S.PdI
Staff :  Surya Murni
            Fitria Ningsih, S.Pd
            Nur Habibah Hasibuan
            Syahrida Hayati, S.Pd

Saturday, 5 November 2011

Selayang Pandang


Moslem Youth Club (MY-CLUB) adalah sebuah lembaga yang merupakan wujud nyata kepedulian orang-orang yang konsen pada masalah pelajar dan generasi muda. Hal ini dilatarbelakangi bahwa pelajar dan generasi muda merupakan sebuah aset yang strategis dalam membangun sebuah peradaban.Kondisi pelajar yang sangat strategis dalam piramida sosial masyarakat menuntut perhatian yang tidak sedikit mengingat saat ini pelajar berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pelajar merupakan sasaran yang sangat menjanjikan bagi pengedar narkoba, terjebak dalam aktivitas yang mengarah pada vandalisme, seks bebas, tawuran dan berbagai kerusakan yang mewarnai kehidupannya. Sementara itu pelajarlah yang kita harapkan untuk melanjutkan peradaban ini.Dalam keadaan seperti itulah, maka MY-CLUB memberikan sebuah tawaran solusi penyelamatan generasi muda. MY-CLUB hadir dalam program-program yang bersifat pembentukan karakter sebuah generasi yang produktif dan intelektual religius. Sesuai dengan namanya MY-CLUB (Moslem Youth Club) juga merupakan sebuah lembaga yang konsen dalam pelesatrian dan penanaman nilai-nilai Islam dalam setiap sisi kehidupan. Hal ini disadari oleh karena Islam dan kehidupan di alam ini sangat memiliki keterkaitan yang merupakan satu kesatuan ciptaan Allah SWT, sehingga tidak ada alternatif yang terbaik bagi kami untuk tidak menggunakan Islam sebagai sumber referensi.
 
Tujuan MY-CLUB : MY-CLUB mempunyai tujuan mewujudkan generasi muda yang mempunyai kompetensi imani (ketaqwaan dan moralitas), kompetensi ilmi (intelektualitas dan keilmuan), kompetensi fanni –jasadi (keterampilan dan jasmani), serta kompetensi sya’bi-siyasi (sosial kemasyarakatan dan politik).
 
Usaha yang dilakukan
Untuk mewujudkan tujuan di atas, maka MY-CLUB melakukan usaha nyata sebagai berikut:
Mentoring (kajian Islam berkala)
Pelatihan Keterampilan secara tematik seperti Kepemimpinan, manajemen, life skill, dan  lain-lain.
Bimbingan belajar alternatif
Upaya penghimpunan dan penyaluran bea siswa yang kurang mampu dalam ekonomi.
Upaya advokasi dan penyuluhan tentang hukum dan kesehatan kepada pelajar tentang hak-hak pelajar sebagai anggota masyarakat dan  warga negara
Pengadaan media informasi
Pembinaan bakat seni dan olahraga
Proyek pengelolaan kegiatan pelajar seperti Pesantren Kilat, camping, tafakur alam, dan lain-lain.